Bawah Menu - Res

Silakan Disimak Pendapat Ahli Bahasa soal Pernyataan Gus Nur




Pengadilan Negeri (PN ) Jakarta Selatan hari ini, Selasa (23/2), menggelar sidang lanjutan kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Sugi Nur Raharja alias Gus Nur. 

Sidang kali ini dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

 Dalam persidangan tersebut, Jaksa sejatinya menghadirkan saksi fakta Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut dan Ketua Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj sesuai perintah majelis hakim ketua Toto Ridarto.

Namun, kedua saksi itu lagi-lagi absen di ruang sidang. 

 Walakin, Jaksa akhirnya menghadirkan saksi ahli Linguistik Forensik dari Universitas Pendidikan Indonesia, Andika Dutha Bachari. Di ruang sidang, Andika menjelaskan tentang tujuan pernyataan Gus Nur. 

 Menurut ahli, tujuan Gus Nur mengunggah video pernyataan tentang Nahdlatul Ulama (NU) di akun pribadinya di YouTube demi memperbanyak pengikut (subscriber) dan penonton (viewer).

 Apalagi, lanjut dia, dewasa ini aktivitas mengunggah video di Youtube memiliki orientasi bisnis.

Semakin banyak sebuah video ditonton, lanjut dia, semakin banyak pula keuntungan yang didapatkan oleh si pemilik akun di Youtube tersebut.

"Dalam konteks terdakwa, ditanya dalam sebuah channel YouTube, ini terjadi dalam dunia digital sekarang itu sebagai aktivitas bisnis. Jadi dia betul-betul meresapi bahwa yang dikatakannya itu ingin tersebar karena berharap viewer atau subscriber. 

Dan ketika ada traffic atau subscriber maka di sana ada earn atau keuntungan," ungkapnya. 

Oleh karena itu, lanjutnya, apa yang dilakukan Gus Nur, baik pernyataan di dalam video maupun aktivitas pengunggahannya itu sesuatu yang memang disengaja. Sebab, Gus Nur melakukan hal itu karena memiliki tujuan dan maksud tertentu.

Guru Besar Bahasa di UPI itu menjelaskan, perbuatan Gus Nur itu juga termasuk dalam kategori mendistribusikan lantaran pernyataannya itu tidak ditargetkan pada seseorang saja.

"Di dalam postingan terdakwa saya menemukan adanya labelisasi negatif terhadap golongan tertentu, yang disebutkan terdakwa jelas adalah Nahdlatul Ulama. Jadi, labelisasi negatif itu yang diumpamakan bus yang jalannya oleng, ugal-ugalan, mabok dipicu sopirnya, keneknya, jadi mengasosuasikan di dalam tubuh NU dihuni atau diisi penumpang yang secara negatif dia labeli," ujarnya.

 Lebih jauh, Andika menambahkan, saat kata negatif itu disebarkan ke golongan tertentu bakal menimbulkan luka dan akan memunculkan sikap permusuhan dan kebencian sebagaimana dalam hukum kausalitas. 

"Saat ada orang yang dilabelisasi negatif, maka secara logika dan naluriah manusiawi, tentu akan menimbulkan sikap tidak senang dan permusuhan pada individu atau kelompok, dan ini yang disasar," pungkasnya.



sumber: jpnn.com

0 Response to "Silakan Disimak Pendapat Ahli Bahasa soal Pernyataan Gus Nur "

Post a comment

Tengah Artikel - in article