Bawah Menu - Res

Pelapor 4 Perawat RSUD Djasamen Saragih Marah Jenazah Istrinya Dimandikan Pria Nonmuslim




Penetapan tersangka terhadap empat perawat RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut) menuai pro kontra.

Empat tenaga kesehatan (nakes) berjenis kelamin laki-laki itu ditetapkan sebagai tersangka karena memandikan jenazah pasien perempuan.

Para tersangka dijerat pasal penistaan agama.

Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mohamad Guntur Romli menilai kasus yang menjerat nakes RSUD Djasamen Saragih merupakan kriminalisasi.

“Nakes dijerat pasal Penistaan Agama karena memandikan jenazah merupakan kasus yang berlebihan, bahkan bisa disebut sebagai kriminalisasi,” kata Guntur Romli, dikutip Pojoksatu.id dari akun Instagram pribadinya,
@gunromli, Rabu (24/2).

Menurut Guntur, dari sisi doktrin Islam pun kasus ini tidak masuk dalam penistaan agama, karena yang wajib (fardlu kifayah) adalah memandikan, mensholatkan, memakamkan terkait detailnya bisa masuk dalam khilafiyah (perbedaan dan perdebatan) apalagi kasus ini terjadi di tengah darurat, pandemi Covid-19.

“Dalam kondisi darurat berlaku hukum pengecualian, ada kaidah fiqih ad-daruratu tubihul mahdzurat الضرورة تبيح المحظورات (kondisi darurat bisa memperbolehkan hal-hal yang dilarang),” katanya.

Dikatakan Guntur, dalam kasus wabah penyakit yang menular, justru jenazah tidak dimandikan tapi tayamum.

“Bahkan dalam kondisi bencana alam yang banyaknya tumpukan jenazah, tidak adanya tenaga pemulasan, dan kondisi-kondisi darurat lainnya, akhirnya jenazah-jenazah tidak lagi dimandikan atau dikafani tapi langsung dimakamkan secara massal,” imbuhnya.

Guntur menjelaskan, memandikan jenazah tidak bisa ditetapkan sebagai penistaan agama. Hal itu tidak punya dasar sama sekali dalam doktrin Islam.

“Dari sisi hukum Indonesia pun, kasus ini merupakan kriminalisasi, tindakan yang semestinya tidak masuk dalam tindak kriminal tapi dijatuhkan hukum kriminal (kriminalisasi),” kata Guntur.

“Kita bisa memahami kesedihan pihak keluarga, memahami pula kegusaran mereka, tapi yang perlu dimaklumi dan diarifi juga adalah terkait situasi dan kondisi saat ini,” tambahnya.

Kalau pun ada tindakan yang tidak menyenangkan atau pun kekeliruan yang tidak disengaja karena terdesak oleh kondisi, semestinya diselesaikan dengan cara kekeluargaan sesuai dengan kearifan lokal masyarakat setempat.

“Sedangkan pihak-pihak yang menekan kasus ini menjadi kasus Penistaan Agama saya lihat hanyalah dilakukan oleh gerombolan-gerombolan radikal yang terus mencari celah agar terjadi konflik berbasis SARA di negeri ini. Apalagi ditambahkan dengan tekanan-tekanan melalui demo-demo dan pengumpulan massa yang melanggar protokol kesehatan,” kata Guntur.

“Oleh karena itu Polisi, Kejaksaan, Pemerintah, Negara harus benar-benar mewaspadai gerombolan ini,” tandas Guntur Romli.


sumber: pojoksatu.id

0 Response to "Pelapor 4 Perawat RSUD Djasamen Saragih Marah Jenazah Istrinya Dimandikan Pria Nonmuslim"

Post a comment

Tengah Artikel - in article