Bawah Menu - Res

PDIP-Demokrat Menghangat, Andi Arief Minta Hasto Tak Benturkan Mega dengan SBY




Politikus Partai Demokrat, Andi Arief meminta Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto tidak membenturkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Megawati Soekarnoputri.

Dia menilai kedua mantan presiden tersebut, yakni SBY dan Megawati adalah panutan bersama yang pernah berjasa terhadap negara.

Hal tersebut disampaikan Andi Arief melalui akun Twitternya menanggapi pernyataan Hasto menyikapiucapanmantan Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie yang mengungkap ucapan SBY tentang Megawati."Sebaiknya Sekjen PDIP Hasto Kristianto jangan membentur-benturkan mantan Presiden Ibu Mega dan Pak SBY. Biarlah mereka berdua menjadi panutan bersama, sebagai yang pernah berjasa buat sejarah politik kita. Kader Partai Demokrat sejak lama didoktrin untuk tidak mem-bully mantan Presiden," cuit Andi Ariefmelalui akun Twitternya, @Andiarief_, Rabu 17 Februari 2021.Baca juga: Soal Megawati Kecolongan 2 Kali, Sekjen PDIP: Pak SBY Memang

Seperti diberitakan sebelumnya, Marzuki Alie mengungkapkan SBY pernah mengatakan kepadanya bahwa Megawati kecolongan dua kali saat Pilpres 2024. Ketika itu Megawati berpasangan dengan Hasyim Muzadi, yang dikalahkan oleh SBY bersama Jusuf Kalla. “Pak SBY nyampaikan, ‘Pak Marzuki, saya akan berpasangan dengan Pak JK. Ini Bu Mega akan kecolongan dua kali ini. Kecolongan pertama dia yang pindah. Kecolongan kedua dia ambil Pak JK. Itu kalimatnya,” tutur Marzuki saat berbincang dengan Akbar Faizal dalam kanal Youtube Akbar Faizal Uncencored, Kamis 11 Februari 2021.Baca juga: Kepada Marzuki Alie, SBY Bilang Megawati Dua Kali Kecolongan.

Pernyataan Marzuki memancing perhatian Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang mempertanyakan moralitas SBY. Menurut dia, sejak lama SBY sudah memiliki disain pencitraan.

"Dalam politik kami diajarkan moralitas politik yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Ali tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY. Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah 'kecolongan dua kali' sebagai cermin moralitas tersebut," tutur Hasto, Rabu 17 Februari 2021.

Hasto juga mengatakan rakyat bisa menilai bahwa SBY telah menzalimin dirinya sendiri demi politik pencitraan. "Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh Pak SBY telah dizalimi oleh Bu Mega, ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzalimi dirinya sendiri demi politik pencitraan," tuturnya.

Dia juga mengungkap sebuah kisah yang disampaikan oleh Almarhun Prof Dr Cornelis Lay. Bahwa sebelum SBY ditetapkan sebagai Menko Polhukam di Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri, saat itu ada elite partai yang mempertanyakan keterkaitan SBY sebagai menantu Sarwo Edhie yang dipersepsikan berbeda dengan Bung Karno, dan juga terkait dengan serangan kantor DPP PDI tanggal 27 Juli 1996.

"Namun sikap Megawati Soekarnoputri yang lebih mengedepankan rekonsiliasi nasional dan semangat persatuan lalu mengatakan: 'Saya mengangkat Pak SBY sebagai Menko Polhukam bukan karena menantu Pak Sarwo Edhie. Saya mengangkat dia karena dia adalah TNI, Tentara Nasional Indonesia," kata Hasto mengungkapkan ucapan Ibu Megawati penuh sikap kenegarawanan sebagaimana disampaikan Prof Cornelis kepada Hasto.

Menanggapi pernyataan Hasto, Andi Arief berekasi. Dia menilai Marzuki Alie telah mengarang. Andi juga mempertanyakan pernyataan Hasto yang membawa-bawa nama Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.

"Hari ini Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membuat release menanggapi statement hantu Pak Marzuki Alie. Kenapa hantu, karena Marzuki memgarang bebas. Lebih mengejutkan saya, ternyata ada dendam PDIP terhadap SBY karena sebagai menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Dendam Ideologis?" cuit Andi Arief.


sumber: sindonews.com

0 Response to "PDIP-Demokrat Menghangat, Andi Arief Minta Hasto Tak Benturkan Mega dengan SBY"

Post a comment

Tengah Artikel - in article