Bawah Menu - Res

Rangkul Saya, Jangan Penjarakan





 Berkopiah putih, gamis warna gelap, dan kemeja oranye bernomor 110, Soni Eranata terlihat santai. "Assalamu'alaikum," ujarnya kepada tim Blak-blakan yang telah menunggu di ruangan wawancara Gedung Bareskrim Polri, Sabtu petang (5/12/2020).
Tak ada nada tinggi, sorot mata tajam, dan telunjuk yang mengacung seperti biasanya kala berbicara. Soni yang kemudian popular dengan nama Maaher At-Thuwailibi itu mengaku syok karena dijemput tim penyidik Siber Polri pada Kamis subuh, 3 Desember 2020.

"Beberapa kali saya berurusan dengan polisi baru kali ini saya ditahan. Saya terkejut batin, syok sekali," kata Maaher.

Dia mengaku tak menyangka bila responsnya terhadap cuitan seorang netizen terkait Maulana Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Yahya akan membawanya ke sel tahanan. Maaher berkilah apa yang terjadi sebatas kesalahpahaman. Dia sama sekali tak bermaksud menghina Habib Luthfi yang amat dihormati di kalangan warga Nahdlatul Ulama dan masyarakat pada umumnya.

Dia juga berkilah, sebelum dijemput polisi sebetulnya sudah berencana bersama isteri dan anak-anaknya untuk menemui Habib Luthfi di Pekalongan.

"Saya ingin meminta maaf dan mencium tangan beliau," ujarnya sambil terisak. Baginya, meminta maaf bukan aib, bukan cacat. Tapi menunjukkan sikap kesatria untuk mengakui kesalahan. "Hukumlah kesalahan saya secara proporsional dan profesional," imbuhnya.

Maaher yang mengaku pernah menimba ilmu di Al Hidayah lalu di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor itu menjelaskan pembawaannya yang selalu tampil sangar di media sosial. Katanya, hal itu tak lebih sebagai akibat kultur yang terbawanya dari Medan. Tapi dalam kesehariannya di rumah dan masyarakat dia mengaku biasa kalem.

"Kalau saya dianggap ustaz nakal, rangkullah saya. Jangan anggap saya sebagai musuh," ujarnya.

sumber: 

0 Response to "Rangkul Saya, Jangan Penjarakan"

Post a comment

Tengah Artikel - in article