Bawah Menu - Res

Ini 3 Hoax yang Beredar Pasca Pilpres AS 2020, Mirip Indonesia




Proses pencoblosan Pilpres AS 2020 baru selesai dan tahapan penghitungan suara pun sedang berlangsung saat ini. Pada proses ini, banyak disinformasi berseliweran.

Beberapa kategori kesalahan informasi terkait pemilu, sebagian besar menargetkan negara bagian yang sebelumnya banyak terdapat swing voter atau mereka yang baru menentukan pilihan di detik-detik terakhir pencoblosan.

Berikut ini tiga jenis hoax yang bertebaran di internet dan media sosial pasca pencoblosan Pilpres AS, seperti dikutip dari The New York Times, Kamis (5/11/2020). Kalau dilihat-lihat, agak mirip dengan di Indonesia ya.

1. Klaim palsu tentang ditemukan atau hilangnya surat suara

Saat penghitungan suara Pilpres AS berlangsung, berbagai klaim tentang surat suara ditemukan atau hilang mulai bermunculan di Facebook dan Twitter.

Renee DiResta, peneliti disinformasi dari Stanford Internet Observatory mengatakan, postingan semacam ini biasanya mendokumentasikan insiden yang pernah terjadi lalu dikumpulkan untuk mendukung klaim palsu dan tidak sah.

Jenis postingan ini terkadang menggunakan gambar untuk memberikan kesan legitimasi atas klaim palsu tersebut. Misalnya, berita dengan foto-foto yang menunjukkan petugas pemilu membawa kotak suara tertutup, namun judulnya menyatakan bahwa kumpulan surat suara telah ditemukan.

Twitter memberi label peringatan pada postingan semacam ini, sehingga memungkinkan orang mengecek ulang kebenaran postingan mencurigakan terkait Pilpres AS.

2. Desas-desus tentang penghitungan suara yang melonjak

Jenis postingan menyesatkan umum lainnya pasca Pilpres AS adalah narasi bahwa ada suara dari hasil kecurangan ditambahkan di negara bagian yang banyak terdapat swing voter dalam semalam.

Narasi ini mengarahkan pada adanya lonjakan penghitungan suara yang mencurigakan. Pada kenyataannya, tidak ada yang luar biasa dari proses ini.

"Proses pemilihan negara bagian ditentukan jauh sebelum pemungutan suara pertama diberikan," kata Lisa Kaplan, pendiri Alethea Group, perusahaan yang meneliti dan membantu melawan disinformasi terkait pemilu.

"Adalah sebuah hal normal untuk melihat perubahan jumlah suara karena negara bagian tersebut mengikuti prosedur yang mereka tentukan sejak awal. Klaim seperti itu harus ditanggapi dengan serius dan dicocokkan dengan fakta dan bukti," sambungnya.

Yang masih terkait dengan desas-desus ini adalah hoax daftar pemilih ganda, orang yang sudah meninggal mencoblos dan jumlah suara melebih jumlah pemilih. Hoax ini beredar di Detroit dan sudah dibantah pihak terkait.



3. Kebohongan tentang spidol yang membatalkan suara



Kalau yang terakhir sepertinya tidak atau jarang terjadi di Indonesia, karena di sini mencoblos sedangkan di Amerika menandai dengan pena/spidol. Di Pilpres AS, pasca pencoblosan biasanya akan beredar narasi tak berdasar yang menuduh petugas pemungutan suara memberi spidol pada para pencoblos untuk menandai surat suara, sehingga suara mereka akan dibatalkan.

Media AS menyebutnya sebagai Sharpiegate atau kasus Sharpie. Adapun Sharpie merujuk pada merek spidol yang populer digunakan di sana. Berdasarkan analisis firma riset media sosial Zignal Labs, Sharpiegate mencatat lebih dari 36.000 mention di media sosial saat penghitungan suara dimulai.

Data Zignal Labs memperlihatkan, tweet individu terkait Sharpiegate mulai ramai diposting pada pagi hari tanggal 3 November, kemudian meningkat tajam setelah tengah malam di tanggal 4 November.

The New York Times mencatat, banyak postingan yang mengklaim penghitungan suara di wilayah Maricopa dan Pinal di Arizona tidak berjalan dengan baik karena mesin pemungutan suara sulit membaca surat suara karena terdapat tinta spidol yang beleberan di atasnya.

Namun kedua wilayah di Arizona itu segera memberikan bantahan dan menyebut narasi tersebut sebagai penipuan pemilih sistemik. Pihak berwenang di kedua wilayah mengatakan tidak ada orang yang membagikan Sharpie di tempat pemungutan suara, dan kalaupun ada yang menggunakan Sharpie, spidol tersebut aman dan tidak akan bermasalah bagi mesin pembaca surat suara.

Sementara itu, Facebook mengatakan telah memblokir hashtag #Sharpiegate sejak penghitungan suara Pilpres AS dimulai. Artinya, postingan mengenai isu ini tidak dapat dicari di platformnya.


sumber: detik.com

0 Response to "Ini 3 Hoax yang Beredar Pasca Pilpres AS 2020, Mirip Indonesia"

Post a comment

Tengah Artikel - in article