Bawah Menu - Res

Denny Siregar: Anies Tak Bisa Kerja, Cuma Bisa Gimik




Penulis buku yang juga pegiat media sosial Denny Siregar kembali nyinyir kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Penulis buku “Tuhan dalam Secangkir Kopi” itu mengolok-olok kebijakan Anies yang memajang peti mati untuk menakut-nakuti warga terkait bahaya Covid-19.

“Saya suka ketawa sendiri melihat cara Pemprov DKI Jakarta mencoba mengingatkan warganya terhadap bahaya pandemi dengan memajang peti mati di berbagai tempat,” kata Denny Siregar dikutip awak media dari channel YouTube Cokro TV, Rabu (4/11).

“Enggak paham saya maksudnya ada peti mati di mana-mana. Apa itu menakut-nakuti warga atau mengingatkan supaya waspada? Atau cuma proyek belaka,” tambahnya.

Denny Siregar menyebut hanya Anies Baswedan yang mengetahui maksud dari peti mati yang dipajang di beberapa titik.

“Ah entahlah, cuman Anies yang paham maksudnya. Yang saya tahu memang beginilah ciri khas pemimpin daerah yang enggak bisa kerja. Mereka suka main gimik supaya terlihat ada prestasi,” cetus Denny.

Ia menilai apa pun yang dibangun Anies tidak ada gunanya. Bahkan tidak ada fungsinya. Hanya sekadar pajangan supaya orang melihatnya sebagai sebuah karya.

“Coba aja mana karya Anies Baswedan selama tiga tahun menjabat sebagai Gubernur DKI. Apa ada karya yang berguna buat warga yang membuatnya akan diingat sebagai pemimpin daerah yang peduli? Hampir tidak ada,” jelas Denny.

Ia lantas mengungkit janji kampanye Anies Baswedan yang akan membangun rumah dengan DP 0 rupiah. Janji itu hingga kini tidak jelas selain peletakan batu pertama saja.

“Waktu dibuka pendaftaran sih kabarnya Rusunami yang dibangun di Pondok Kelapa itu peminatnya membeludak. Bahkan beritanya sampai antre-antre segala,” katanya.

“Kenyataannya sekarang, dari 780 unit yang tersedia di sana, hanya 85 unit yang ada penghuninya. Berarti sia-sia kan?,” ucapnya.

Menurut Denny, peminat rumah dengan DP 0 rupiah bukan tidak ada. Tapi angsurannya yang terlalu besar sehingga masyarakat kelas bawah tidak mampu untuk beli.

“Jangankan buat bayar cicilan, buat makan sehari-hari aja mereka susah. Bayangkan penghuni harus mencicil rumah susun di era Anies sebesar Rp1,5 juta per bulan selama 15 tahun,” kritik Denny.

“Bagaimana bisa? Sedangkan banyak masyarakat kelas bawah yang cuma punya penghasilan Rp3 juta per bulan,” tambahnya.

Denny membandingkan pengelolaan rusunami pada era Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Meski sistemnya sewa, masyarakat kelas bawah cukup bayar Rp150 ribu per bulan. Itu juga buat biaya perawatan dan kebersihan,” sebutnya.

“Dari sini kita lihat bahwa ide-ide Anies Baswedan tidak mampu dia jalankan karena memang sifatnya hanya gimik saja. Supaya orang memilih dia sebagai gubernur, maka diucapkanlah janji-janji bombastis dan membuat orang mimpi indah. Padahal, isinya zonk belaka,” katanya.

Denny menyebut selama tiga tahun memimpin DKI Jakarta, belum ada karya Anies Baswedan yang orisinil.

Anies, kata Denny, hanya bisa mengubah-ubah ide Jokowi dan Ahok. Itu pun cuma nama yang diubah, misalnya rumah susun menjadi rumah lapis, reklamasi diganti nama menjadi perluasan daratan.

“Kerjaannya yah itu itu aja, sambil terus nyalahin pemimpin daerah lama, supaya orang menganggap Anies mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan nama,” tandas Denny Siregar.


sumber: pojoksatu.id

0 Response to "Denny Siregar: Anies Tak Bisa Kerja, Cuma Bisa Gimik"

Post a comment

Tengah Artikel - in article