Bawah Menu - Res

Akhir Kisah Karyawati Otaki Penembakan Bos Berujung di Kantor Polisi




Penembakan yang menewaskan pengusaha, Sugianto (51) di Kelapa Gading, Jakarta Utara, akhirnya terungkap. Polisi menangkap total 12 pelaku terkait penemakan maut tersebut.
12 Pelaku tersebut memiliki peran sebagai otak pembunuhan, perencana, penyedia senjata api, sebagai joki, eksekutor. Para tersangka berhasil ditangkap pada Jumat (21/8) lalu di Cibubur, Jaktim, Surabaya, Jawa Timur dan Lampung.

Dua belas tersangka itu adalah Nur Luthfiah (34), Ruhiman (42), Dikky Mahfud (50), Syahrul (58), Rosidi (52), Mohammad Rivai (25), Dedi Wahyudi (45), Ir Arbain Junaedi (56), Sodikin (20), Raden Sarmada (45), Suprayitno (57), dan Totok Hariyanto (64).

Nana menyampaikan tersangka Nur Lutfiah marah kepada korban karena dianggap telah melakukan pelecehan. Nur Lutfiah mengaku pernah diajak berhubungan intim dengan korban.

"Ada beberapa pernyataan korban yang dianggap melecehkan selama ini, mereka sering marah-marah dan sering mengajak hal-hal di luar hubungan pimpinan-karyawan, sering diajak melakukan persetubuhan dan ada perkataan sebagai 'perempuan tidak laku'," imbuhnya.

Selain itu, tersangka Nur Lutfiah merencanakan pembunuhan karena diancam akan dilaporkan korban ke polisi. Nur Lutfiah diduga menggelapkan uang pajak perusahaan.

"Yang bersangkutan ada rasa ketakutan, karena yang bersangkutan dari 2012 sampai 2020 itu di bagian admin dan keuangan dan selama ini pajak-pajak perusahaan tidak semua disetorkan ke kantor pajak. Jadi ada indikasi menggelapkan uang pajak tersebut, sehingga ada teguran dari pajak Jakarta Utara ke perusahaan itu," bebernya.

Hal ini kemudian memunculkan niat tersangka Nur Lutfiah membunuh korban.

"Hal ini sempet dari korban sampaikan bahwa tersangka akan dilaporkan ke polisi. Ini menjadi kekhawatiran sehingga menimbulkan yang bersangkutan ambil inisiatif bahwa yang bersangkutan untuk membunuh dari pada korban tersebut," tuturnya.

Tersangka Nur Lutfiah kemudian meminta tolong kepada suami sirinya, yakni Ruhiman, yang juga menjadi tersangka dalam kasus itu. Awalnya, Ruhiman menolak permintaan Nur Lutfiah, tapi kemudian dia juga ikut merencanakan dan menyewa pembunuh bayaran.


"NL (Nur Luthfiah) minta supaya korban dibunuh, kemudian dari tersangka NL juga siapkan dana Rp 200 juta untuk mencari pembunuh bayaran," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana saat jumpa pers di Mapolda metro Jaya, Jakarta, Senin (24/8/2020).

Selanjutnya, pada 4 Agustus, Nur Luthfiah kembali meminta Ruhiman membunuh korban. Kali ini, Ruhiman mengamininya setelah diyakinkan oleh Nur Luthfiah bahwa dirinya diancam korban.

Selanjutnya, tersangka Ruhiman kemudian membantu Nur Luthfiah untuk mencarikan eksekutor. Setelah mendapatkan eksekutor, para tersangka menyusun rencana yang dilakukan di rumah hingga hotel.

"Para tersangka mulai melakukan perencanaan pembunuhan, perencanaan ini dilaksanakan 5 kali," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dalam jumpa pers di Mapolda metro Jaya, Jakarta, Senin (24/8/2020).

Nana menyebut perencanaan itu dilakukan setelah pembunuhan terhadap Sugianto disetujui suami siri Nur Luthfiah, Ruhiman (42), pada 4 Agustus 2020. Saat itu perencanaan dilakukan di 3 tempat berbeda.

"Pertama di rumah NL (Nur Luthfiah) pada 4 Agustus, lalu 1 kali pada 5 Agustus di Hotel Tangerang, lalu 3 kali di Hotel C Cibubur," ucapnya.

Nana mengatakan dalam perencanaan selama beberapa hari itulah akhirnya disepakati pembunuhan dilakukan pada 10 Agustus 2020. Namun rencana itu gagal dan akhirnya para tersangka memutuskan mengeksekusi korban dengan cara ditembak.

Semula, korban akan dieksekusi di dalam mobil dengan modus para pelaku berpura-pura sebagai petugas pajak. Namun, rencana itu gagal lantaran korban enggan mengikuti arahan para tersangka.


Hingga akhirnya para tersangka sepakat membunuh korban dengan cara menembak korban. Pada saat itu, para tersangka sempat kebingungan untuk mencari siapa eksekutor untuk menembak korban.

"Tanggal 11 Agustus mereka rencanakan kembali di hotel. Langkah selanjutnya untuk membunuh korban dengan gunakan senpi," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dalam jumpa pers di Mapolda metro Jaya, Jakarta, Senin (24/8/2020).

Nana mengatakan saat itu para tersangka sempat kebingungan terkait eksekutor penembakan sampai pada akhirnya dipilih Dikky Mahfud (50) sebagai eksekutor.

"Akhirnya DM (Dikky Mahfud) menyanggupi dengan alasan untuk perjuangan. Sindikat ini satu kelompok, kebetulan para pelaku ini merupakan murid dari orang tua NL (Nur Luthfiah). Sehingga dengan alasan perjuangan karena di mana NL dalam ancaman, sehingga DM setujui datang ke Jakarta," ucapnya.

Selanjutnya pada 12 Agustus 2020, Nana menyebut para tersangka menjemput Dikky di Bandara Soekarno-Hatta. Dari situ, para tersangka langsung kembali ke hotel di kawasan Cibubur.

Mereka pun kembali merencanakan penembakan terhadap korban. Lalu para tersangka juga sempat membeli motor dan jaket ojek online untuk beraksi.

"Nah dibeli motor seharga Rp 13,3 juta. Kemudian Saudara D (Dikky) dan R (Rosidi) membuat nopol palsu dan beli jaket serta helm ojek online. Setelah beli motor, jaket, dan helm di Jakut, maka disimpan di daerah Benhil," ujarnya.

Pada H-1, tersangka Ir Arbain Junaedi (56) melatih Dikky menembak karena sang eksekutor sebetulnya tidak punya kemampuan menembak. Keesokan harinya, pada 13 Agustus, para tersangka menuju lokasi kejadian.

Pada 13 Agustus sekitar pukul 08.30 WIB, tersangka Dikky dan Syahrul menunggu korban keluar dari ruko miliknya. Hingga akhirnya pukul 12.45 WIB korban keluar dan ditembak oleh tersangka Dikky.

"Sekitar 12.45 WIB, korban atas nama S keluar, Saudara DM memastikan apakah korban betul yang dieksekusi, sempat berpapasan, setelah pastikan saudara DM menembak 5 kali mengenai punggung dan kepala korban," sebut Nana.

Korban pun tewas seketika di lokasi kejadian. Selanjutnya para tersangka kabur ke wilayah Lampung dan membagikan uang bayaran Rp 200 juta yang diberikan Nur Luthfiah.

Atas kejadian itu, pihak kepolisian melakukan penyelidikan. Total ada 12 tersangka yang ditangkap terkait kasus penembakan ini, yakni Nur Luthfiah (34), Ruhiman (42), Dikky Mahfud (50), Syahrul (58), Rosidi (52), Mohammad Rivai (25), Dedi Wahyudi (45), Ir Arbain Junaedi (56), Sodikin (20), Raden Sarmada (45), Suprayitno (57), dan Totok Hariyanto (64).

Tersangka Ruhiman, Dikky Mahfud, Syahrul, Mohammad Rivai, Dedi Wahyudi, Ir Arbain Junaedi, Sodikin, Suprayitno, dan Totok Hariyanto ditangkap tim Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya di bawah pimpinan Kompol Handik Zusen, AKP Herman Edco Simbolon, Kompol Ressa F Marasabessy AKP Mugia Yarry Junanda, AKP Nor Marghantara, dan AKP Rulian Syauri.

Tersangka Rosidi dan Sarmada ditangkap tim Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya di bawah pimpinan AKBP Jerry R Siagian. Sedangkan tersangka Nur Lutfiah ditangkap tim Polres Metro Jakarta Utara di bawah pimpinan Kompol Wirdhanto Hadicaksono.

Para tersangka dijerat Pasal 340 KUHP subsider 338 KUHP dan/atau Pasal 1 ayat 1 UU Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau paling lama penjara 20 tahun.


sumber: detik.com

0 Response to "Akhir Kisah Karyawati Otaki Penembakan Bos Berujung di Kantor Polisi"

Post a comment

Tengah Artikel - in article