Bawah Menu - Res

Meratap Rindu dan Cemas Pasien Terlama Covid-19 di Indonesia



Ilustrasi
Penampilan Riki Permana, pasien positif virus corona, tampak bugar. Dari wajahnya kerap terlontar senyum, nyaris tak menunjukkan sakit atau kesedihan. Dirinya tercatat sebagai pasien terlama covid-19. Tak terbayang betapa dia merindukan rumah, keluarga, teman juga hari-hari yang biasa dilaluinya sebelum virus corona menghampiri.

"Ini hari ke-30. Kalau secara fisik sudah lebih sehat, enggak ada keluhan apa-apa lagi. Tapi dari tes laboratorium pada 24 Maret 2020 dan hasilnya keluar 30 Maret 2020, masih positif," kata Riki saat diwawancarai CNN Indonesia TV beberapa hari lalu.

Jika ditarik lagi ke belakang, agak sulit memastikan dari mana datangnya virus. Riki berkata ada kemungkinan terkait dengan pekerjaannya di bandara sehingga membuat dirinya bersinggungan dengan pendatang dari berbagai negara.

Mulai 2 Maret 2020, dirinya merasakan demam sekitar 38-39 derajat Celcius hingga 8 Maret 2020. Dokter menduga Riki mengalami radang tenggorokan sehingga dia diberi obat untuk mengatasi demam dan radang. Hasilnya, nihil. Demam masih naik turun sehingga timbul dugaan gejala tifus.

"Masuk IGD, ternyata trombosit enggak turun. Akhirnya cek CT Scan dan rontgen, eh ada infeksi di paru-paru sebelah kiri," ucapnya.

Hingga kini, sudah enam kali tes dia jalani. Namun tetap saja hasilnya masih positif. Dari diskusinya bersama dokter, belum ada jawaban pasti sebab virus masih terbilang baru dan riset pun masih terbatas.

Teori mengatakan dalam waktu 14 hari jika tubuh fit, maka virus akan hilang dengan sendirinya. Namun, lanjut Riki, di Indonesia banyak kasus 'unik' dan masih jadi kajian para dokter. Sempat ada dugaan HIV tetapi hasil tes negatif.

Dukungan psikologis

Sulit dibayangkan jika Anda harus berada di ruang isolasi seorang diri. Riki bercerita interaksi langsung dengan manusia pun minim. Kalau dihitung-hitung, dia hanya bertemu perawat atau dokter selama total 15 menit sehari. Interaksi dengan pasien lain pun hanya sebatas saling berpapasan saat ke kamar mandi atau membuang sampah nasi kotak.

Selebihnya, dia menggantungkan interaksi lewat internet. Karena cukup lama dirawat, perlahan para perawat pun menjadi kawan sendiri mulai dari bertukar nomor kontak hingga saling menanyakan kabar.

Akan tetapi, tiga hari terakhir rumah sakit menyediakan konseling dengan psikolog. Riki menduga rumah sakit menyadari dirinya adalah pasien terlama sehingga ada pengaruh pada kesehatan mental.

"Pasien selama ini fokus pada obat, mau minum obat apa, padahal yang tak kalah penting me-maintain semangat. Di rumah sakit ya ada up and down. Pasti nyesek banget, masih positif, padahal sudah menjalani serangkaian treatment, pengobatan. Dengan konseling psikolog ini saya terbantu banget. Makanya ini kelihatan sehat, bahagia," ujarnya disusul tawa.

Tak hanya itu, dukungan pada dirinya pun terus mengalir dari keluarga maupun teman. Menurutnya komunikasi dengan teman-teman malah lancar dengan lebih banyak aliran dukungan daripada stigma.

"Saya khawatir itu stigma ke keluarga. Makanya ada konseling ini mempersiapkan kita secara holistik (fisik dan mental siap). Saya harap ini bisa diterapkan di semua rumah sakit," imbuhnya.


sumber: cnnindonesia.com

0 Response to "Meratap Rindu dan Cemas Pasien Terlama Covid-19 di Indonesia"

Post a comment

Tengah Artikel - in article